Observasi kafe
Nama : Puspa Setyaningrum
NIM : 175231080
Kelas : 2B Perbankan Syariah
Tugas Mata Kuliah Metodologi Studi Islam
“Price is not a Determinan of Quality”
pendahuluan
Pada hari jumat, tanggal 04 Mei 2018, saya beserta teman teman kelompok lainnya mengunjungi sebuah kedai kopi. Kedai kopi atau kafe tersebut bernama restorant “Yellow Truck cofee” yang beralamatkan di Jalan Kebangkitan Nasional No. 35 Sriwedari, Laweyan, Surakarta. Jujur saja saya mengunjungi kedai kopi itu bukan bertujuan untuk ngopi, akan tetapi hanya bertujuan untuk melakukan observasi yang berkenaan dengan tugas yang diberikan dosen kami tercinta, Bapak Endy Saputra M. S. I yang mengajar Metodologi Studi Islam.
Dosen favorit dengan tugas yang membuka wawasan dan menantang mental, yang berkaitan dengan Studi Islam, setelah dahulu kami diberi tugas mendongeng didepan umum, melakukan Reset terhadap Masjid dan TPQ, meresum 400 halaman buku hanya dalam waktu satu minggu, Review Film, Menulis narasi dan essay yang tidak lupa dengan foto persentase plagramme, menginap disebuah pondok dan jadi santri sehari semalam atau dua puluh empat jam, dan kini giliran tugas yang cukup menantang, langsung terjun observasi ke kafe asia tenggara dan kedai kopi yang namanya cukup terkenal, yang cukup membuat dompet menangis kesepian.
Dalam proses observasi, untuk mendapatkan data yang valid dan bisa dipastikan kebenarannya penulis terjun langsung ke kedai kopi tersebut dan mengamati secara langsung keadaan, kondisi, dan suasana didalam kedai kopi tersebut selama kurang lebih 3 jam. Berdasarkan observasi yang saya lakukan dikedai kopi “Yellow Truck” berikut akan saya paparkan beberapa data yang saya dapatkan.
Pembahasan
Penggambaran Kedai Kopi
Dari hasil diskusi saya dengan pramusaji, Kedai kopi “Yellow Truck cofee” berdiri diatas tanah seluas kurang lebih 500 M² dengan bangunan utama kurang lebih seluas 300-400 M², ukuran yang bisa dibilang cukup luas untuk “nongkrong”, mengobrol, meeting dengan patner kerja, arisan, atau hanya sekedar ngopi untuk menenangkan pikiran dari penatnya pekerjaan.
bagian luar kafe di cat warna cream dan dihiasi dengan hiasan- hiasan cangkir kopi mini yang didalamnya terdapat lampu warna – warni, didepan bangunan utama kafe ditanami tumbuhan sehingga memberi kesan sejuk pada kafe tersebut.
Bangunan berbentuk klasik tapi juga mengandung unsur modernisasi, menurut penulis bangunan tersebut di disain seperti rumah klasik agar para pelanggan merasa nyaman ketika berada dalam kafe tersebut, tidak hanya itu jendela yang menghadap ke taman selalu dibuka dengan maksud agar pengunjung kafe bisa menikmati segarnya udara yang bersumber dari taman depan
Bagian belakang kafe terdapat seperti halaman belakang rumah yang ditanami rumput rumput nan indah, mirip dengan halaman belakang rumah yang sesungguhnya, akan tetapi sayangnya pada halaman belakang ini tidak diberi payung atau yang lainnya,dan langsung berhadapan dengan langit. Jadi ketika hujan turun atau cuaca sangat terik, pengunjung tidak bisa menikmati bagaimana nyamannya ngopi diteras belakang kafe tersebut.
Kasir dan dapur berada di depan pintu masuk, model pelayanan yang diterapkan pada kafe ini yaitu setiap pelanggan yang masuk langsung menuju kasir, memesan makanan, dan langsung membayar makan yang dipesan dengan pembayaran dimuka, pembayaran bisa menggunakan uang kontan maupun pembayaran dengan kartu kredit atau yang biasa disebut dengan “Credit Card”.
Sedangkan dapur justru diletakkan di depan dan bukan dibelakang, menurut penulis hal itu dimaksudkan agar pelanggan kafe “Yellow Truck cofee” bisa melihat secara langsung proses pembuatan kopi, ataupun minuman selain kopi, serta pembuatan dari makanan, baik makanan ringan maupun makanan berat yang tersedia di kafe itu.
Tampilan dalam kafe terlihat seperti suatu ruang makan dalam sebuah rumah, dengan tata ruang menyerupai sebuah rumah klasik, dihiasi dengan lukisan tentang kopi, tak lupa lukisan yang bertuliskan “Yellow Truck Cofee” dan lukisan kata promosi kafe tersebut “Hidup ini Terlalu singkat jika hanya meminum kopi yang buruk”
Selain itu di bagian belakang kafe dihiasi dengan sebuah rak yang berisi buku-buku yang tertata rapi, seperti layaknya mencerminkan sebuah ruangan kerja yang penuh dengan buku-buku maupun file – file pekerjaan yang sangat bernuansa terasa ngopi dirumah sendiri.
Lokasi “Yellow Truck Cofee”
Kafe “Yellow Truck Cofee” berada di Jalan Kebangkitan Nasional No. 35 Sriwedari, Laweyan, Surakarta. Lebih tepatnya terletak di depan toko buku “BUSRI” yang terletak di belakang taman Sri Wedari Laweyan Surakarta. Lokasi yang bisa dibilang cukup strategis karena berada di depan jalan raya yang ramai dengan lalu lalang kendaraan. Memudahkan para pelanggan yang ingin mengunjungi kafe tersebut tanpa takut nyasar atau muter – muter di daerah pedesaan.
Kondisi “Yellow Truck Cofee”
Kondisi bangunan utama “Yellow Truck Cofee” yang menyerupai bentuk rumah terlihat masih kokoh dan terlihat rapi atau bisa dikatakan berhasil dalam hal tata ruang. Untuk kondisi keramaian kafe itu sendiri, ketika penulis mendatangi kafe tersebut dalam mengamati segala hal yang ada disana, bisa dibilang cukup ramai, semua meja dipenuhi oleh pelanggan yang silih berganti mendatangi kafe tersebut.
Daftar Menu “Yellow Truck”
Seperti nama dari kafe tersebut “Yellow Truck Cofee” maka Menu utama atau menu andalan di kafe ini yaitu minuman Kopi, baik kopi dingin, maupun kopi panas. Berbgai macam kopi tersedia di kafe ini, mulai dari kopi Espresso, mochachino, latte, capucino, sampai americano.
Selain kopi, tersedia juga minuman – minuman “non-cofee” seperti chocholate, green tea, red valvet, lime, lychee, tea selection, dan lain sebagainya bisa dilihat sendiri di daftar menu “Yellow Truck Cofee” dengan harga yang berkisar antara lima belas ribu sampai dengan tiga puluh rib rupiah hanya untuk secangkir kopi.
Untuk Makanan Ringan atau snack, di “Yellow Truck cofee” tersedia menu antara lain : tahu lada garam, jamur lada garam, french fries, fish roll, roti bakar, chichken finger, dan sebagainya, dengan harga yang berkisar antara sembilan belas ribu sampai dengan tiga puluh ribu rupiah, hanya untuk seporsi makanan ringan atau snack.
Sedangkan untuk sejenis makanan berat, di “Yellow Truck Cofee” menyediakan menu antara lain:Nasi Goreng, pasta, beef burger, sweet and sour beef, sweet and sour chicken, spaghetti, dan lain sebagainya dengan harga yang berkisar tiga puluh ribu sampai dengan lima puluh ribu.
Menu yang dipesan penulis
Berhubung penulis merupakan seorang mahasiswa yang diberi tanggung jawab untuk membayar sendiri uang kuliah maupun biaya untuk hidup sehari-hari sedangkan hanya bekerja tambahan sebagai tentor privat, maka ketika penulis ke kafe tersebut hanya memesan ice cofee mahasiswa yang merupakan menu termurah dari minuman kopi di kafe tersebut.
Sedikit penulis gambarkan rasa dari ice kopi mahasiswa yang penulis pesan, dari tampilan terlihat cantik, terkesan seperti munuman yang manis dengan begitu banyak krimer, akan tetapi kenyataan tak sesuai dengan apa yang terlihat, rasa dari segelas kopi yang penulis pesan ternyata sangat pahit, sangat terasa kopinya, seperti kopi tanpa gula, tapi justru ini memberi suatu pelajaran bagi penulis bahwa “jangan menilai sesuatu dari luarnya atau yang nampak, karena yang diluarnya terlihat manis belum tentu benar benar manis”, akan tetapi di akhir akhir kopi yang tersisa terasa sedikit manis, walaupun pahit tetapi akan terasa nikmat jika dinikmati, dan hal itu juga mengajarkan pada penulis bahwa “tak selamanya kopi itu pahit, seperti tak selamanya bahwa hidup itu pahit, dengan menikmati dan tidak mengeluhkan hidup, maka hidup akan terasa nikmat”. Belajar bisa dari mana saja bukan? Termasuk dari secangkir kopi, itulah ilmu yang bisa penulis peroleh setelah menikmati secangkir kopi.
Dan untuk makanan ringan, penulis memesan fish roll yang juga merupakan makanan termurah di kafe tersebut, lagi – lagi tidak sesuai dengan ekspetasi, fish roll tersebut hanya seperti sebuah otak – otak yang dijual di pasar seharga lima ratus per biji, bahkan menurut penulis lebih enak otak – otak dipasar dibandingkan fish roll di kafe “Yellow Truck Cofee”.
Kesan Setelah observasi di kafe tersebut
Setelah observasi di kafe tersebut perut penulis sakit, lambung perih, mungkin dikarenakan terlalu banyak kandungan kopi nya, sedangkan penulis mempunyai riwayat penyakit magg, dan tifus. Menurut pendapat penulis, harga kopi di “Yellow Truck Kopi” bisa dikatakan mahal, jika disuruh memilih, penulis lebih memilih meminum segelas kopi susu di warung yang hanya seharga kurang lebih dua ribu rupiah per gelas.
Begitu pun dengan fish roll, menurut penulis terlalu mahal jika makanan yang tidak jauh lebih enak dari otak – otak dari pasar, dihargai dua puluh ribu untuk satu porsi fish roll yang berisi sepuluh buah . harap maklum karena penulis merupakan anak fakultas ekonomi, jadi cara berfikirnya pun ekonomis.
Antara “Yellow Truck Cofee dengan Islam”
Saat penulis observasi di kafe tersebut, penulis tidak melihat adanya mushola, dan juga lupa untuk bertanya mushola terhadap pramusaji, terlihat ada beberapa orang yang berjilbab mengunjungi tempat tersebut, tapi tidak sholat, entah sedang halangan atau memang karena tidak adanya mushola dan disamping itu mungkin juga tidak pernah melaksanakan ibadah sholat, hanya Allah yang tau.
Dari hal itu penulis menyimpulkan bahwa setiap orang berhak mengunjungi kafe tersebut baik dari orang yang beriman maupun yang beda agama atau non islam, pengunjung kafe tersebut mayoritas orang kaya, hal ini terlihat dari gaya berpakaian pengunjung, kendaraan pengunjung, dan handphone dari pengunjung, selain itu penulis rasa tidak ada orang yang islamnya kuat mengunjungi tempat tersebut, melihat dari cara berpakaian pengunjung wanita, hanya sebuah pendapat.
Demikian narasi yang bisa penulis utarakan dari sebuah pengalaman observasi ke kafe “Yellow Truck Cofee” , penulis menyadari adanya banyak kekurangan dari narasi ini, untuk itu penulis mohon maaf atas segala bentuk kesalahan dalam narasi ini
Komentar
Posting Komentar